Senin, 30 Juli 2012

Puasa Ramadhan bagi Pasien Diabetes

Bulan Ramadhan  merupakan bulan ke 9 dalam penanggalan Hijriah.Pada bulan ini seluruh umat Islam di dunia diwajibkan untuk berpuasa.1 Adapun Rukun selama berpuasa adalah menahan segala hal yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari.2 Hal - hal yang dapat membatalkan puasa antara lain adalah makan dan minum. Sehingga terjadi perubahan pola makan dan minum pada saat puasa di bulan Ramadhan. 

Diabetes adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi hasil dari defek pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.3 Pasien dengan diabetes yang akan berpuasa di bulan Ramadhan menghadapi berbagai resiko yang merupakan tantangan baik bagi penderita maupun petugas medik, tentang manajemen pasien.

Faktor Resiko Mayor yang berhubungan dengan Puasa pada pasien diabetes adalah:4,5
  1. Hipoglikemi. Penurunan asupan makan merupakan faktor resiko timbulnya hipoglikemi. Berdasarkan studi EPIDIAR6 menunjukkan puasa Ramadhan meningkatkan resiko hipoglikemi berat. Hipoglikemi berat lebih sering terjadi pada pasien dengan pengobatan Obat hipogligemik Oral(OHO) atau Insulin yang merubah dosisnya dan pasien yang merubah gaya hidupnya.
  2. Hiperglikemi. Kontrol yang buruk terhadap hiperglikemi dihubungkan dengan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Studi EPIDIAR menunjukkan peningkatan lima kali lipat kejadian hiperglikemi berat pada pasien diabetes tipe 2, dan tiga kali lipat pada pasien diabetes tipe 1.
  3. Ketoasidosis diabetikum. Pasien dengan diabetes, khususnya tipe 1 yang melakukan puasa bulan Ramadhan beresiko lebih tinggi untuk Ketoasidosis diabetikum, terutama jika tidak terkontrol dengan baik sebelum puasa.
  4. Dehidrasi dan trombosis. Pembatasan asupan cairan selama puasa dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dapat menjadi lebih berat bila cuaca panas dan aktivitas fisik yang meningkat. Selain itu juga hiperglikemi menyebabkan diuresis osmotik yang menyebabkan berkurangnya volume cairan dan elektrolit. Peningkatan viskositas darah sebagai akibat dari dehidrasi juga dapat meningkatkan resiko trombosis dan stroke.
Karena Resiko yang dapat timbul itulah maka para pakar berpendapat bahwa pasien dengan diabetes yang akan berpuasa harus berkonsultasi dengan dokter atau spesialis metabolik untuk menilai apakah puasa dapat membahayakan kesehatan mereka.




Tabel diatas menunjukkan rekomendasi stratifikasi resiko pada pasien dengan diabetes tipe 1/2 yang puasa pada bulan ramadhan. Pasien yang diklasifikasikan sebagai high risk direkomendasikan untuk tidak melakukan puasa karena dapat menyebabkan semakin buruknya kontrol diabetes akibat dari  hipoglikemi berat atau ketoasidosis diabetikum. Pasien dengan moderate risk dapat menurunkan level resiko mereka dengan cara berkonsultasi dengan dokter beberapa bulan sebelum Ramadhan dan melakukan perubahan yang seusai terhadap terapi diabetes mereka. Sedang pasien dengan Low Risk dapat berpuasa sesuai saran dokter. Pasien yang memilih untuk tetap berpuasa meski tidak disarankan, perlu diberikan perhatian untuk membantu mereka berpuasa seaman mungkin.4,5

Empat area penting dalam edukasi pasien diabetes selama Puasa Ramadhan adalah, perencanaan asupan makanan dan diet, aktifitas fisik, monitor glukosa darah, dan mengenali serta mengelola komplikasi.7
  1. Perencanaan Makan dan diet. Diet selama Ramadhan harus diet sehat yang berimbang. Makanan yang Slow energy release seperti gandum dan beras  dimakan sebelum dan sesudah berpuasa. sedangkan makanan yang kandungan lemak jenuhnya tinggi seperti daging merah, gorengan, daging olahan perlu dikurangi. Makanan yang tinggi serat seperti buah-buahan, sayur, dan salad baik dikonsumsi sebelum dan sesudah puasa.
  2. Aktifitas fisik. Aktifitas fisik sedang dan ringan aman dilakukan untuk pasien diabetes tipe 2. Aktifitas fisik yang serius tidak direkomendasikan karena resiko hipoglikemi meningkat, terutama pada pasien yang mendapat obat sulfonilurea atau insulin. Mendorong pasien untuk melanjutkan aktivitas fisik selama periode tidak puasa (setelah berbuka). Sholat Taraweh seharusnya diperhitungkan sebagai bagian aktifitas fisik karena didalamnya terdapat kegiatan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk.
  3. Monitor gula darah. Pengukuran kadar gula darah tidak dianjurkan saat berbuka puasa. semua pasien yang berpuasa diberikan pengertian untuk memonitor gula darah mereka. Tes gula darah harus dilakukan ketika : 
    1. Terdapat gejala hipoglikemi, pasien disarankan untuk membatalkan puasa mereka jika   hipoglikemi suda dipastikan dengan pemeriksaan gula darah.
    2. Pasien yang Tidak fit (seperti : demam) Pemeriksaan pada waktu yang lain diperlukan jika ingin menyusaikan terapi diabetes mereka.
  4. Mengenali dan mengelola komplikasi. Pasien dengan diabetes harus selalu waspada terhadap gejala dehidrasi, hipoglikemia, dan hiperglikemi, dan membatalkan puasanya segera setelah salah satu komplikasi atau gejala akut muncul.
Lalu bagaimana penggunaan obat hipoglikemik oral pada saat bulan puasa??

Pada dasarnya obat hipoglikemik yang bekerja meningkatkan sensitifitas insulin (metformin) lebih rendah resiko terjadinya hipoglikemi dibandingkan dengan obat yang bekerja denagn meningkatkan sekresi insulin (sulfonilurea).4,5

Penggunaan insulin.

Strategi efektif dari penggunaan insulin saat berpuasa adalah penggunaan insulin kerja intermediate atau kerja panjang ditambah dengan insulin kerja pendek sebelum makan.4,5

Kesimpulan

Puasa selama ramadhan bagi pasien dengan diabetes membawa resiko terjadinya berbagai komplikasi. Secara umum pasien diabetes tipe 1 dengan riwayat kontrol gula darah yang buruk dan hipoglikemi berulang merupakan resik tinggi terjadinya hipoglikemia. Disisi lain penurunan dosis insulin untuk pencegahan hipoglikemi menempatkan pasien pada resiko ketoasidosis dan hiperglikemia. Keputusan pasien untuk tetap berpuasa seharusnya dibuat setelah berkonsultasi dengan dokter. Pasien yang tetap bertahan untuk berpuasa harus mendapatkan edukasi dan instruksi yang cukup tentang perencanaan asupan makanan dan diet, aktifitas fisik, monitor glukosa darah, dan mengenali serta mengelola komplikasi.


Daftar Pustaka
  1. QS Al-Baqarah ayat 183.
  2. QS Al-Baqarah ayat 187.
  3. American Diabetes Association. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care Volume 27 supp 1.2004.
  4. Al-Arouj M, Bouguerra R, Buse J, Hafez S, Hassanein M, Ibrahim MA, et al. Recommendations for management og diabetes during Ramadhan: update 2010. Diabetes Care. Volume 33.2010.
  5. Hui E, Bravis V, Hassanein M, Hanif W, Malik R, Chowdhury TA, et al. Management of people with diabetes wanting to fast during Ramadhan. BMJ Volume 340. 2010.
  6. Salti L, Be'nard E, Detournay B, Biaanchi-Biscay M, Le Brigand C, Voinet C, et al. Result of the Epidemiology of diabetes and Ramadhan 1422/2001 (EPIDIAR) study. Diabetes Care. Volume 27.2004.
  7. Bravis V, Hui E, Salih S, Mehar S, Hassanein M, Devendra D. Ramadhan education and awareness in diabetes programme for muslims with type 2 diabetes who fast during Ramadhan. Diabetes Medicine. Volume 27.2010
---

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...